Tur

Suatu hari aku bertemu dengan Tur, anak yang menginspirasi hidupku sehingga aku dapat menjadi ‘seseorang’.

Aku orang kaya. Bukan Mama dan Papa yang kaya, melainkan Tante dan Oom. Tante Crey seorang penyanyi handal. Suaranya seriosa merdu sekali. Hanya saja Tante Crey cerewet dan kadang agak mengesalkan. Sementara suaminya, Oom Ramon pengusaha yang sukses. Ia memiliki pabrik mesin escalator dan tanah seluas dua hektar.

Hey, lalu dimana Mama dan Papa? Boleh dikata aku sebatang kara. Keduanya meninggal saat aku berumur dua dan empat tahun. Awalnya aku mengira diriku telah dikutuk hingga Sang pencipta mengirim Tur padaku.

Tur adalah seorang kuli angkat-angkat di Toko milik adik Oom Ramon. Pertemuan itupun tak sengaja. Kulihat Tur yang sedang kehausan dan bernafsu sekali membeli air mineral. Lalu aku menawarkan susu botolku yang masih utuh. Ia mensyukurinya dan amat lebay mengenai susu itu.

“Kau beli dimana? Pasti mahal!” katanya.

“Nggak, kok. Cuma tiga ribuan,” jawabku.
“Gila! Itu mahal sekali buat ukuran sekecil ini! Terimakasih! Aku akan menyisakannya buat adikku! Pasti susu ini mengandung banyak gizi!” katanya.

Diam-diam, aku memikirkan kata-kata Tur dirumah. Ia anak lelaki kurus yang bersemangat sekali. Otaknya cerdas. Walau tak sedetik pun mengenyam bangku sekolah, namun Tur bisa membaca, menulis dan menghitung. Ia pandai dalam aljabar dan rumus phytagoras-pun ia kuasai. Kemampuan berbahasanya juga baik. Bahkan, Tur telah mempelajari bagian-bagian mikroskop dan sangat hafal, sementara aku yang masih kelas lima SD ini hanya bisa bengong melihat bagaimana anak sebayaku yang tak pernah sekalipun sekolah itu memberi penjelasan.

Suatu siang sepulang sekolah, aku menyempatkan diri ke toko dan menemui Tur. Kuberi beberapa buku bekas kelas empat. “Tur, pelajaran PKn paling banyak ilmunya, paling susah dihafalkan. Kau baca saja buku PKn itu, dijamin pusing!” kataku. Tur kegirangan.

Siang keesokan harinya, aku kembali menyempatkan diri ke tempat Tur. Tak disangka, anak lusuh ini berhasil menghafalkan materi tentang system pemerintahan hanya dalam satu malam saja. Dengan lancar diterangkannya padaku.

“DPR itu curang. Ia korupsi memakan uang rakyat. Pasti banyak sekali dosanya!” cetusnya polos setelah berceloteh panjang lebar.

“Iya. Semua penguasa seperti itu!” kataku setuju sambil tertawa.

Keinginan terbesar Tur sangat sederhana: sekolah. Betapa ia kagum dan iri kalau melihat anak-anak manis berseragam lewat didepan toko. Dan, betapa keras usahanya menabung untuk membeli buku-buku bekas di rombengan. Tak peduli itu untuk kelas berapa.

Aku sadar bahwa kehidupan Tur jauh lebih menderita. Suatu hari, aku mengajak Tur jalan-jalan ke alun-alun kota yang letaknya tak jauh dari toko.

“Hidup itu sebuah jalan, Breya. Setiap jalan pasti ada ujungnya. Setiap orang memilih jalan yang berbeda. Kalau kau ditakdirkan menjadi sendiri, itu artinnya Sang pencipta ingin kau menjadi kuat dan mandiri. Sadarlah bahwa kau lebih hebat daripada mereka yang masih punya orang tua!” katanya setelah aku curhat mengenai hidupku yang amburadul.

Seperti tak memiliki beban benar dia bernasihat. Nasihat itu begitu ajaib bagiku. Tak ajaib bila yang bicara adalah anak yang memiliki Mama-Papa yang kaya raya. Namun, kali ini aku di skak mat oleh seorang anak kuli sebatang kara dengan dua orang adik perempuan.

Matanya, aku bisa melihat bersinar nan indah. Penuh semangat menjalani hidup. “Tak ada kata menyerah dalam kamusku,” katanya bangga. “Bapak berpesan agar aku menyekolahkan Sari dan Nemi, adik-adikku,” katanya.

“Lalu, apakah mereka sekolah?” tanyaku.

“Iya dong! Mereka berdua sekolah. Aku senang bisa menjalankan pesan Bapak,” katanya lagi. Membuat aku semakin tertegun.

Aku berfikir. Tur berbeda jauh denganku. Bila aku pulang-pergi sekolah mengenakan tas bagus dan menaiki mobil, maka Tur harus menggendong adiknya sekolah sambil berjalan kaki tiga kilometer jauhnya.

Namun, sederas apapun cobaan menerpanya, Tur tak pernah tumbang. Tak sekalipun aku mendengarnya mengeluh. Bila aku mengeluh mengenai Tante, ia pasti berkata:

“Ibu adalah payung kita. Tanpanya kita tumbang. Maka, bersyukurlah Brey, karena kamu punya pengganti Ibu yang baik. Payungmu hilang, kau dapat lagi. Setidaknya kau masih punya payung,” katanya.

Aku mengerti. Secara tak langsung ia ingin menyampaikan bahwa aku masih mending dari dirinya yang sudah tak punya payung, tetapi menjadi payung.

Suatu hari Tur memutuskan untuk tak mau bertemu denganku. Awalnya kupikir anak ini marah. Aku bertanya. Sambil tersenyum ia berkata: “Aku tak mau kau pergi. Maka aku saja yang pergi,” katanya. Aku bingung.

“Aku kehilangan semua orang yang kusayangi. Ibu, Bapak, Bu Nia yang dulu sempat ngurus aku dan sahabatku. Aku nggak mau kau yang berikutnya.” Katanya.

Aku dibuat terdiam karenanya. Hidup Tur lebih rumit dibandingkan aku. Ceritanya lebih suram. Namun semangatnya tak pernah padam. Senyumnya selalu ceria. Dan anak sebelas tahun yang kutemui itu rela tak bersekolah demi adik-adiknya. Aku sempat berpikir apakah Tante dapat mengadopsinya, namun Tur menolak.

“Sudahlah Breya. Suatu hari nanti kita akan bertemu lagi, aku janji.” katanya tersenyum.

Aku berlari meninggalkan Tur. Air mataku menetes. Kenapa aku tak dapat menolongnya? Kenapa malah Tur  yang menolongku bangkit?

 

5 tahun kemudian…

 

Rumah sakit itu serbaputih. Bau obat dimana-mana. Hey, ketemu lagi. Aku Breya, kini telah kelas satu SMA. Namun, musibah menerjangku kali ini. Aku sakit dan telah dirawat di rumah sakit selama hampir sebulan lamanya.

Suatu siang, aku yang merasa agak baikan ini berjalan-jalan disepanjang koridor. Hingga kutemui seserang anak laki-laki yang sedang duduk memandangi langit. Saat aku meman-dangnya, kurasakan degup jantungku makin cepat. “Tur…” bisikku.

Tur tersenyum. Senyumnya masih sama. Binar semangat matanya juga tak berubah.

“Hay, Breya. Sedang apa kau disini?” sapanya.

“Tur… aku… aku sakit… kau sendiri?” tanyaku.

“Menunggu waktu operasi tiba,” jawabnya sambil tersenyum.

“Kau sakit apa?” aku terperanjat.

“Tidak, seorang keluarga kaya ingin membutuhkan donor. Jadi, aku memutuskan menjadi penolong bagi mereka. Kudonorkan ginjalku agar kedua adikku bisa sekolah,” jelasnya.

“Kau…” airmataku menetes.

“Jangan bersedih, Breya. Setidaknya aku telah melaksanakan pesan Bapak, juga aku telah menepati janjiku untuk pergi, agar kau tak pergi,” ucapnya. Tur kembali tersenyum.

Kata-katanya hanya menambah pedih hatiku.

Dan, Sang pencipta telah mengirim malaikat penyelamat hidupku. Tur, anak lusuh yang amat tegar menghadapi nasib. Itulah dia. Walaupun Tur harus pergi untuk selamanya, namun ia telah mewariskan semangatnya pada kedua adik-adiknya dan aku. Selamanya, lebih mahal disbanding sekarung emas. Aku amat bersyukur sempat mengenalnya.

Setahun sudah sejak kepergian Tur. Kupandangi lagi toko yang kini kosong itu. Tempat duduk kayu yang dulu sering aku duduki bersama Tur. Aku berjalan perlahan dan menduduki bangku kayu itu. Membayangkan Tur disampingku, menatapku dengan matanya yang cerdas. Aku rindu padanya… namun aku akan berusaha tegar. Aku akan menggapai semua impianku.

Categories: Corat-coret | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: